Saturday, 7 September 2013

Sanger Talaud Manado

People Call US, INDONESIA


Sanger Talaud


Dunia.
INDONESIA..


Foto di atas itu. Gunung yang ada di tengah laut itu adalah yang biasa di sebut Manado Tua. Bila lw pernah ke Bunaken, Manado tua ada di sebelahnya. Dari foto itu Bunaken ada di sebelah kanan Manado Tua. Pukul 18.00 gue berangkat dari Manado menuju ke Sanger Talaud tempat nyokap bokap di lahirin menaikin kapal laut. Foto itu gue ambil dari Geladak kapal paling depan. Gue terbius, seakan pengen gue peluk hamparan laut biru itu. Sayang gue belum sempet ke Bunaken waktu itu. Karena ketika gue masih di kampung bokap, gue sama bokap dapet kabar kalau nyokap masuk rumah sakit. Jadi waktu di manado gue cuman ngunjungin saudara yang paling deket terus langsung terbang pulang. But someday I will come again and visit Bunaken.

Pelabuhan Lirung


Di Lirung gue ga sempet muter-muter, karena kapal bersandar cuman beberapa menit.



Ini gambaran yang gue liat ketika kapal mulai bergerak ke pelabuhan berikutnya yang merupakan batas paling utara indonesia. Dan di sana gue berlabuh.
Sampai di sana gue langsung meluncur ke kampung nyokap. Dan pikiran pertama ketika gue turun dari mobil adalah "Rumah mama yang mana??" Dan ironisnya sampe gue keluar dari kampung nyokap, gue ga tau rumah nyokap gue yang mana. Dan sekarang gue tau, semua orang yang ada di kampung itu adalah satu saudara sama nyokap. Gue langsung di pertemukan dengan orang tua tante gue di bekasi. Di sana gue tinggal. Setelah sedikit bosan karena ngikutin bokap berkunjung ke rumah saudara, gue kabur sendirian muter-muter kampung.
Satu yang perlu kita tahu. Keburukan dan kebaikan berasal dari dalam diri setiap orang.
Sore menjelang malam itu ketika gue lagi duduk-duduk di pantai gue ketemu lagi sama Nelwan--Saudara gue yang jemput gue di bandara--Dan gue di pertemuin sama saudara gue yang lain Ka Yeri


Walau dengan kebersamaan gue yang kurang dari 3 minggu bareng mereka, gue dapet persepsi bahwa Ka Yeri Jeggernya kampung. Semua anak muda di kampung kenal sama Ka Yeri.
Bareng mereka juga gue main bola, bareng orang-orang kampung yang berbondong-bondong di panggil sama ka Yeri. Bisa di bilang bukan main bola, tapi main lumpur. Dan sampe sekarang kadang gue masih kangen main bola bareng mereka lagi. Menyenangkan banget, karena gue udah lama banget ga maen-maen lumpur kotor-kotoran. Dan yang lebih menyenangkan, hari itu gue tutup dengan mandi di pantai bareng mereka. Luw tau, ketika itu udah mulai petang dan anginnya pun sudah mulai kenceng. Pasti luw bisa bayangin seberapa besar ombak yang bergulung-gulung menghantam gue yang naik ban dalam mobil sebagai pelampung. Sejujurnya saat itu gue belum puas. Dan sayang waktu itu angin lagi kenceng jadi gue ga bisa ketengah laut nyari ikan. :SAD:
Esokan harinya, ini yang lebih menarik. Gue di ajak naik ke bukit, masuk hutan yang orang anggap itu kebun, tapi bagi gue itu hutan. Ngambil pisang, sayang nangkanya masih belum matang. Yang jelas gue ga manjat, karena emang ga bisa, paling gue bisa manjat cuman pohon mangga. Gue ngabisin sore itu di "KEBUN"

Gue di ajak bokap buat berkunjung ke kampung sebelah namanya BEO, tempat saudara gue yang lain. Selama perjalanan gue tercengang, gue kaget ketika gue liat ada pantai yang bagus banget di sana, pasirnya putih, airnya masih biru dan belum terjamah.





Ketika selesai berkunjung dari rumah saudara, gue langsung ngajak Nelwan ke pantai itu buat maen-maen di sana. Ada beberapa foto yang gue abadiin waktu gue di pantai itu. Dan ada beberapa yang gue retouch. Luw bisa liat di http://juliofmine.deviantart.com

                                                                                ***


                                                                                ***

 GOA TOTOMBATU

Esok harinya lagi--Sebenarnya gue lupa urutan kegiatan yang gue post ini--Gue di ajak Ka Yeri, Nelwan sama saudara-saudara ke sebuah gua di atas batu karang. Di sana banyak tulang belulang, yang konon tulang belulang itu adalah orang-orang yang pertama kali datang ke pulau itu. Semacam gua bersejarah kali yah. Gua itu bisa di jangkau dengan memanjat sebuah batu karang yang sebesar rumah dan itu hanya bisa di kunjungi ketika air laut sedang surut. Akses ke sana pun harus melewati jalan setapak di tengah hutan, sekitar 1 kilometer.




                                                                               ***

Dalam pada itu, tiba gue harus ninggalin kampung nyokap terus langsung berlayang dengan naik perahu kecil nyeberang ke pulau tempat bokap lahir. Di sana masalah trasnportasi merupakan satu dari banyak problem. Kapal pengangkut penumpang yang menyeberang ke pulau bokap masih jarang banget. Sampe akhirnya gue mesti nunggu lumayan lama di pelabuhan Lirung. Ini penampakan pelabuhan Lirung dari angle yang berbeda.


                                                          
                                                                                  ***



Ini perahu yang tidak terlalu besar yang gue tumpangi nyeberang ke pulau bokap dan yang hampir sukses buat gue mabok laut karena di hantam ombak yang lebih besar dari perahu itu. Ketika itu juga pengalaman pertama gue naik perahu yang ga begitu besar, duduk di atasnya, di ombang-ambing ombak bergulung-gulung besarnya sampai-sampai baju gue setengah basah kena air laut. Sementara bokap gue, dengan gagah berdiri di geladak depan perahu yang ga gede-gede amat. Dari sana juga gue harus mengerti, bahwa hidup harus selalu di syukuri. Gue yang baru pertama kali naik perahu itu hampir muntah di buatnya, di satu sisi ABK perahu itu dengan santainya dia bisa tidur pules di bawah geladak kapal. Sampai di sana, gue di manjai dengan pemandangan yang menawan. Perahu sandar di sebuah tebing kokoh yang di sandingkan dengan batu karang besar yang tak kalah kokohnya dengan balutan air laut yang sangat jernih. Gue baru tersadar ketika melihat jauh, bahwa itu adalah sebuah muara sungai yang langsung menuju laut lepas. Kampung bokap gue ga terlalu menyenangkan di banding kampung nyokap. Di sana ga ada pantai yang indah. Tapi pengalaman gue di sana adalah ketika gue di ajak bokap ke hutan buat ngambil buah-buahan. Di sana gue lebih dapet pengalaman tentang budaya sekitar. Apabila seorang anak dari seseorang yang berasal dari kampung itu baru pertama kali menginjakkan kakinya di tanah leluhurnya, maka keluarga dan masyarakat akan membuatkannya sebuah acara pengucapan syukur untuk anak tersebut. Di sana agama yang masyarakat percaya adalah Kristen. Tidak banyak kegiatan yang gue lakukan di sana, karena memang kampung itu sangat kecil, mungkin hanya sebesar 3 blok di perumahan dalam kota. Singkat cerita gue sudah kembali ke manado setelah pembelajaran yang lebih mendalam tentang kehidupan yang gue dapet di kampung bokap.

Dan Na'as buat gue. Ketika berangkat dari Sangir ke manado cuaca sangat cerah. Ketika di tengah perjalanan cuaca berubah seperti ingin memboyong gue masuk ke dalam laut. Secara otomatis gue mabuk laut, sepanjang malam gue cuman bisa berusaha tidur supaya gue ga berasa mabok, sulit, tapi akhirnya gue bisa tidur juga. Kali ini gue bangun pagi-pagi buta, berharap ada lumba-lumba yang mengiringi, tapi semua sirna, karena gue sama sekali ga liat apa-apa. Seperti yang gue bilang di manado gue ga sempet ke Bunaken, gue cuman mengunjungi saudara di Bitung dan sedikit berputar-putar di pusat kota manado yang sangat kecil. Hingga akhirnya gue pulang sendiri karena suatu hal.

Gue masih sangat berusaha untuk membuat kesempatan travelling keliling Indonesia. Karena gue sangat senang menjelajah.

Itu lah sedikit cerita gue tentang indonesia.

2 comments:

Armita RP said...

Pantai beo tempatku mencari inspirasi...........

Armita RP said...

Pantai Beo tempatku mencari Inspirasi.....

Post a Comment