AYAHANDA
Perawakan
ini, lelaki besar dari Utara Sulawesi. Berjuta-juta ton garam memisahkan
kehidupan nun jauh di pesisir tanah air. Berlarut-larut keringat pun telah
menjadi darah untuk anak dan istrinya. Kapan dia tak tertawa aku tak paham.
Kapan dia menahan asam lambung pun aku acuh. Bila ada yang lebih berharga dari
apa pun di tanah air, itu pasti lah ayahanda. Macam Christopher Columbus dia
hantam ombak bergulung-gulung. Tak pernah padam rasa takutnya menelanjangi
tantangan. Aku bak benalu menempel di pundaknya tapi dia hantamkan aku dengan
kasih sayang semanis madu. Bagi ku lah dia tetap pelaut ulung tak tergantikan
di hati ku.
RAHIM MU
Bila
pitamnya sedang naik sampai ubun-ubun, meracau lah dia dari pagi bertemu
petang. Macam pisau tajam makiannya mencabik-cabik hati. Namun pantaslah aku
belajar dari ibunda. Bila aku inginkan ini itu garamlah dia melihatku. Selalu
dia mengajarkan kami kesederhanaan. Tapi aku lah yang membuatnya di atas
pitam. Selalu. Bila sedikit saja ada air
tergenang di lantai, tak akan habis aku di makinya hari itu. Bila bukan ibu,
tak akan sanggup lah orang lain menghantamkan pelajaran hidup kepada tiga anak
lelaki ini. Namun naas, tak satu pun ibu mendapatkan anak perempuan walau sudah
ia titipkan surat kepada yang mengatur hidup.
Keluarga Anak Layangan
Aku terlahir di Jakarta dan besar di kota Bekasi. Pada tanggal 26 juli 1989, aku di lahirkan sebagai seorang anak dari sepasang kekasih, yang tentunya mereka orang-orang lama alias orang dulu. Menjadi adik dari 1 saudara lelaki dan menjadi kakak dari seorang adik lelaki. Tiga bersaudara yang semuanya lelaki, dan aku anak kedua. Kata orang anak kedua tidak begitu bagus untuk soal rejeki, tapi ulet dalam mencapai sesuatu. Aku, mengamini semua itu saja. Aku dan kakak lelaki ku selisih 2 tahun, dan aku dengan adik lelakiku selisih 5 tahun. Sejak kecil aku dan abang ku bermain bersama, sepak bola yang paling sering. Layangan?? Tidak!! Abang ku tidak bermain layangan. Ada sedikit bahkan banyak memori tak terlupakan ku dengan layangan. Nanti aku ceritakan. Dengan seiring keegoisannya, waktu pun terus berputar. Aku dan kakak bertambah besar hingga adik lelaki ku lahir melengkapi three musketeer dalam keluarga kecil dari Sulawesi Utara ini. Kakak menapaki hari-harinya di SMA, dan aku masih SMP, dimana ketika pergaulan ku dengan pergaulan kakak sangat berbeda. Dia mendapat sekolah swasta favorit dengan mayoritas bersiswa cina, begitu pun aku di SMP. Yang membedakan adalah dimana dia dan pergaulannya yang kutu buku berbanding terbalik dengan pergaulan ku yang sangat kental oleh pemberontakkan dan kenakalan anak muda. Itu berlanjut hingga aku menginjak SMA. Hingga ketika keegoisan mulai tumbuh di antara aku dan kakak sering lah terjadi pergesekkan emosi yang tak jarang berujung adu jotos. Saat itu aku dan kakak memperebutkan sebuah kipas angin, sepele sekali permasalahannya. Aku yang melihat kipas angin yang menganggur membawanya ke kamar dan langsung menyalakannya. Dengan nada tinggi abang ku berteriak meminta kipas anginnya di kembalikkan. Ibu yang sensitive dengan teriakkan kami yang saling memaki langsung mencoba memisahkan. Tanpa ada daya ibu tetap memisahkan kami, namun tak berhasil. Alhasil dengan kesedihan seorang ibu, ibu berpura-pura pingsan di hadapan kami berdua, bermaksud agar perhatian kami berdua tertuju kepadanya dan berhenti untuk berkelahi. Aku dan Kakak terdiam, kaget. Yang ada di kepala ku saat itu adalah apakah ibu tidak apa-apa?? Aku tak tau apa yang ada di pikiran kakak ku pada saat itu, namun ku yakin pemikirannya itu tidak jauh berbeda dengan ku. Kami menggendongnya ke sofa, mengusapkan parfum di sekitar lobang hidungnya agar dia terbangun. “Kalian jangan pada berantem!! Ga kasian sama mama sampai begini. Mama ga bisa deh klo liat kalian berantem gini!! Salaman!! Mama mau liat kalian salaman dan baikkan” Ibu berbicara terbata-bata. Melihat ibu seperti itu, tanpa berjanjian aku dan kakak bersalaman. Dengan muka yang cemberut di tekut 12 bercampur ekspresi kekesalan yang masih terpancar di wajah kami saling mengucapkan kata maaf. Yang bila di andaikan sebagai janji pernikahan atau icap Kabul sangat-sangat tidak tulus. Semenjak itu selalu apa bila ibu dan ayah bepergian ke luar dan yang tersisa di rumah hanya aku dan kakak, dia selalu berkata “Awas, mama tinggal kalian berdua di rumah. Jangan pada berantem lagi. Ga malu di liat tetangga, ihhh… Anaknya ibu Musa anaknya suka berantem.” Semakin sering dan terlalu sering berkata seperti itu. Hingga wejangan ibu kepada kami adalah “Kalian ini bersaudara. Jangan saling berantem, kalau kakaknya menegor adiknya itu wajar. Baiknya kalian saling membantu sebagai saudara, untuk masa depan atau pun hal-hal lain. Mama maunya ngeliat kalian kaya anak-anak lain, akur.” Namun banyak wejangan-wejangan yang ibu berikan. Namun terkadang dengan nada yang tinggi. Karena ibu selalu memberi wejangan ketika emosinya sedang tinggi. Dia bisa memarahi ku dari pagi hingga ketemu pagi lagi, bahkan ketika ku pulang larut malam ibu dari balik mimpinya berteriak memarahi ku dari dalam kamarnya.***Beberapa memori masih melekat permanen di ingatanku. Di kota pinggiran Jakarta ini aku berburu kesenangan masa kecil ku. Di antara memori yang melekat tentunya memori-memori masa kecil dengan layangan.Aku bersekolah di sebuah Sekolah Dasar Negri di dalam komplek perumahan ku. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah ku, sekitar 5 menit berjalan kaki. Sekolah ku pun tidak terlalu bagus, tapi setidaknya aku senang pada waktu itu. Setiap hari sebelum pergi ke sekolah aku selalu minta ibu untuk memakaikan minyak hijau penambah pesona, minyak rambut urang aring, hingga rambut ku rapih klimis dan terlihat jidat ku mengkilap olehnya. Sambil tersenyum dan menyisir rambut yang sudah di oleskan minyak hijau penambah pesona itu aku berdiri gagah di depan cermin, menaikkan alis ku lalu bergegas melaju melewati hari ku.Dia seorang gadis pertama yang ku lihat begitu indah, namun tak mungkin bagi ku. Terkadang aku meliriknya, aku senang ketika dia membalas lirikkan ku, ntah karena ingus ku yang meleleh keluar hidung atau mungkin mata ku memiliki tai mata yang meledek orang hingga mampu meningkatkan ketelitian pandangan seseorang terhadap ku. Yahh.....atau mungkin sejak kecil tingkat kePeDean ku sudah taraf stadium akhir. Namun aku tak terlalu memikirkan itu, aku ini anak pinggiran, pandangan orang pun gelap terhadapku. Hidup ku pun tidak terlalu enak seperti anak-anak lain, keluarga ku pun sederhana beranjak dari bawah, satu ayah satu ibu dan tiga orang anak laki-laki, dan aku anak kedua. Aku berpandangan pada saat itu hidup ku tidak terlalu menyenangkan ketika kecil, di banding kedua saudara ku. Aku tidak memiliki berbagai macam mainan elektronik, di bandingkan dengan kedua saudara ku. Aku hanya bermain layangan, kelereng dan sepak bola. Aku termasuk ras 4L4Y pada waktu itu, Anak Layangan. Dan aku bangga menjadi-jadi, berlarian memburu layangan hingga ke sawah di belakang rumah. Hingga terkadang aku berseragam lumpur di badan, orang-orangan sawah mungkin berbisik meledek ku dengan padi-padi itu. Tapi tak jarang setelah siang merotasi menjadi sore, aku bergairah menerbangkan layangan ku. Aku bukan tidak di segani pada waktu itu, tidak ada yang ingin mengadu layangan mereka dengan ku, itu karena aku mempunyai kemampuan melarikan diri dari musuh hhehe. Ulur sedikit, tarik hingga meringis kesakitan akibat tangan ku tergores benang. Tanah lapang dengan ilalang setinggi tubuh kami itu lah yang menjadi medan menerbangkan layangan kami, tepat berada di depan rumah ku yang sekarang ini sudah menjadi bangunan tempat tinggal permanen. Tidak heran bila aku dan teman-teman menjadi 4L4Y sejati, kulit terbakar panasnya sinar matahari, karena terkadang aku bermain sejak siang hingga sore hari.Teman ku pun tidak jauh berbeda dengan kemampuan ku menjadi Anak Layangan sejati. Perhatian kami teralihkan pada sebuah layangan yang mengapung di langit pelan dengan lembut dia turun ke bumi, jelas ada seorang anak yang kalah tanding beradu layangan. Aku dan teman ku edo bergegas berlari mengejar layangan tersebut, layangan itu mengapung pelan ke arah sawah di belakang komplek perumahan ku, dia berayun pelan turun ke pinggir sawah hijau yang akan sebentar lagi panen. Edo ada pada baris paling depan, dia sangat yakin dia mampu mendapatkannya. Di pinggir sawah tangannya dijulurkan sepanjang mungkin berharap benang layangan itu tersangkut di tangannya. Dengan tangan yang dijulurkan itu, dia dan mereka yang ikut memburu tidak cukup untuk meraih layangan itu, dia mulai berjinjit dengan badan yang sedikit di majukan kedepan. Layangan tersebut masih mengapung pelan turun mendekati sawah hijau, namun edo tak bisa menggapai benang panjang yang terlebih dahulu menyentuh hijaunya padi. Aku fikir dia terlalu bernafsu, banyak anak-anak lain yang meneriaki dia dari belakang untuk melompat, alhasil dengan pandangan ku yang masih baik pada saat itu, aku melihat teman ku menjadi seorang Superman 4L4Y, melompat menjangkau layangan. Edo berhasil mendapatkan layangan itu dengan harus mengorbankan diri mandi lumpur di sawah. Mukanya semrawut, parasnya mengkerut, dia berjalan pelan seakan tak percaya harus mandi lumpur dengan tetap mengangkat layangannya ke langit, mungkin baginya itu kebanggaan, tapi bagi kami itu kebodohan yang terulang karena banyak anak-anak lain yang menderita di tertawakan karena bernasib sama dengan edo hhaha kami tertawa puas. Sendalnya yang berwarna putih sudah penuh lumpur, dia terlihat seperti tidak memakai pakaian, wajahnya yang terlihat hanya giginya ketika dia tersenyum, bahkan hingga sore tiba kau pun masih bisa melihat jejak kakinya berjalan dari sawah hingga kerumahnya.Namun Seperti banyak orang bilang, people just come and go. Dan ketika kita menjadi dia kita bayangan. Aku tidak tau apa yang terjadi di dalam keluarganya ketika itu, semenjak hari itu aku tak pernah melihatnya kembali mengejar layangan, tak ada lagi dia yang bersemangat mengejar layangan hingga bermandi lumpur, itu terakhir kalinya aku duduk didepan rumahnya.Satu yang jelas, manusia hidup mencari kebahagiaan. Kawan, Terkadang kita harus mengorbankan kebahagiaan lain untuk mewujudkan kebahagiaan yang lain. Ini bagaimana kita mensikapi kehidupan. Dan mungkin konflik internal di dalam keluarganya lah yang memaksa dia pergi.
Note ; Tulisan gue ini masuk dalam project nulis bareng #MyHomeTown yang di buat NulisBuku.com. Dan judul cerpen gue ini jadi judul buku pertama dari 4 buku kumpulan cerpen tentang #MyHomeTown yang di terbitin NulisBuku.com


0 comments:
Post a Comment