Friday, 4 February 2011

MANUSIA TAK SEMPURNA

Sinta terbangun ketika matahari menghilang dan digantikan embun malam yang mulai menggelitik sekujur tubuhnya. Di saat itu pun dia tersadar, dia berjalan sambil tertidur. Tempatnya berdiri di penuhi kunang-kunang, berwarna-warni, menari-nari mengelilingi tubuhnya seakan mengajak Sinta mengembangkan senyumnya yang telah lama hilang.

Ada satu kunang-kunang yang menarik perhatiaannya, dia mengajak sinta ke suatu tempat, Sinta terkagum, sejenak menahan nafas untuk sesekali berjalan pelan ke depan ke arah dia melihat. Hamparan bunga-bunga terindah di tengah hutan di malam hari yang pernah dia lihat, luas menuju ujung penglihatannya. Seseorang berbisik, “berlarilah sinta, nikmati apa yang kau lihat, yakin bahwa ini semua milik mu. Menarilah dengan mereka, mereka yang berkelap-kelip mengelilingi berputar-putar di antara aroma tubuh mu.”

Aku sendiri, berdiri terengah, hati ku gemetar, pandangan yang sangat ku takuti. Berdiri menjadi tuhan, aku menginjak bayangan ku sendiri. Jelas ini mimpi dan jelas pula hati ku berbicara mengaung-ngaung ditempat yang sepi nan putih ini. Ntah dari mana semua ini, yang jelas aku mengerti kanvas kehidupan ini bebas untuk ku beri warna dan bentuk. Aku ingin Ibu dan Ayah, aku ingin senyum mereka. Lalu warna orange kemerahan aku tuangkan, aku takut, sejenak berbentuk dua orang manusia tersenyum pada ku, hangat dan hilang menjadi serpihan kecil berbentuk kupu-kupu. Begitu cepat, aku tuangkan kembali warna orange tersebut, tak berbentuk apa-apa!! Hanya bentuk tumpahat cat orange. Senyumku menghilang, hati ku lusuh, jari jemari ku mulai mengepal keras, kenapa tak sanggup lagi aku membentuk senyuman hangat dari kedua orang tersebut yang ku yakinin gambaran ayah dan ibu. Aku berusaha meneteskan air dari mata ku, karena mungkin itu yang menghiasi mata sayup ku.

Langkah ku lunglai, aku kosong melangkah tanpa ujung di dunia suci. Aku ingin bayangan ini tak hanya diam dan mengikuti ku saja. Aku ingin dia berlari, melompat dan berbicara pada ku. Dia hanya tersenyum pada ku. Katanya “ Kau tak mampu menempatkan sesuatu di tempat yang seharusnya. KAU KALAP.” Aku berfikir, sesuatu yang selama ini mampu setia pada ku adalah bayanganku ini. Paparan dari bentuk tak real dari diriku. “Hei..sahabat...aku ini tuhan dari mimpi ku!! Aku mampu menghilangkan mu menjadi titik di hamparan kesucian” kataku. “KAU KALAP” katanya. “Bahkan aku yang menjadi bagian dari jiwa mu saja, ingin kau singkirkan” lanjutnya. “Kita ini mimpi, bahkan aku pun tak mampu membuat mimpi ku ini seperti apa” kataku. Tersadar bayangannya sudah hilang. “Hei...sahabat..kemana kau pergi?? Aku tidak sepenuhnya serius menyingkirkan mu.” Aku hancur, hati ku remuk redam, dengkul kaki ku, ku rebahkan ke tanah, hati ku tak lagi berbentuk. Ntah bagaimana ku melakukannya, hingga bagian yang paling setia dalam diriku pun telah ku benamkan jauh.

Redup mata sayup, kegelapan datang begitu cepat, berbunyi seperti kereta api yang mendekat. Tanpa ada benda langit, ruang lingkup mata ku terbatasi. Tanganku meraba ke depan. Duduk terdiam, lama ku berada di kegelapan, aku dilumpuhkan oleh kegelapan, dicabik-cabik ketakutan, kini bayanganku pun benar-benar tak ada, tak mampu menemaniku.

#Sebagian cerita fiksi ku

0 comments:

Post a Comment