Ada kalanya tuhan marah.
Aku tak mampu menggambar indah dan menari gemulai, sedangkan dia....
Dia menjadi tumpuan hidup.
Ada kanvas yang tak berbatas.
Kau berhak menjadi apa yang di inginkan.
Aku.....menutup mata, kuas besar di tangan kanan ku, berbagai warna cat bertumpuk dan mengeras di tangan kiriku.
Sudah puluhan tahun cat itu mengering, Aku lugu untuk memakainya.
Sudi kah seseorang membunuh ku, hingga air mata meramu kehidupan. Aku mati, lihat!!!! ada gerbang besar di dadaku, berdetak jantung, seakan menolak kenyataan.
Aku bahkan lupa...
Rasa jamu yang biasa di belikan ibu saat ku masih kecil. Penambah nafsu makan, katanya.
Lalu....
Ada jalanan kosong di depan ku. Akuu???
Terdiam....
Menutup Mata.
Kehidupan menolongku, merayu ku untuk bermimpi.
Aku ingin pergi ke efesus, aku ingin tenggelam di dalam segitiga bermuda lalu aku ingin mengikuti arah badai di puncak elbrus lalu berakhir di kota Paris.
Aku ingin melompati kehidupan dan menari-nari bersama tuhan di langit.
Aku ini muda, egois dan berapi-api. Tapi tak cukup mampu untuk melompat saat ini.
Kaki ku gemetar, aku di patahkan ketakutan, melangkah berat dengan rasa was-was. Pikiran ku berat akan kata-kata menyesakkan. Paru-paru ku di penuhi oksigen yang ku paksa masuk dengan bernafas dalam.
Kembali kedalam mimpi, Aku tertidur dan bertanya kembali "Ingin menjadi apa engkau?? Semua di tangan mu!!"
0 comments:
Post a Comment