Friday, 11 March 2011

Ketika hidup masih berdampingan dengan CINTA

Dia, umurnya terbatas pada kelas 5 Sekolah dasar, namun beban hidupnya tak dia rasakan. Canda gurau melapis anggun menutupi beban yang harus di tuntutnya. Hingga dewasa dia mencoba membawanya, namun hidup memutar balikkan kenyataan. Mencoba berdiri sendiri, walau kaki tak kuasa bergetar. Dia tak pernah malu akan keadaannya, hidupnya penuh apa adanya. Memperjuangkan ibunya pada saat itu, penyakit keras memecah lembutnya belaian sang ibu. Hampir 1 tahun setelah ayahnya menghadap tuhan, menjadi malaikat dia di sana. Mungkin masih segar dalam ingatan sinta, ketika tubuh ibunya terbaring kaku, tak bernafas. "Ibu...ibu tak akan pergi meninggalkan ita juga kan??" perkataanya polos, air matanya meluap berharu.

***

Aku mulai paham. Belakangan ini aku sangat sering menulis. Berberapa hal atau mungkin banyak hal yang aku pelajari dalam hidup ini. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami cara menulis yang baik.

"Note ; Hal terindah kedua di balik pemahaman hidup ku yang berat adalah ketika ibu tersenyum tulus kepada ku sebelum kartini ku itu menghadap tuhan."

Kini aku benar-benar berdiri dengan kedua kaki yang gemetar. Bekal ku menghadapi hidup hanya pemahaman bagaimana bercanda gurau. Aku masih sangat kecil pada saat itu, untuk menerima pelajaran hidup ku yang berat.
"Kawan, setiap manusia memiliki batas kemampuannya di dunia ini, termasuk maut. Bersyukurlah untuk keluarga yang utuh dan berjuanglah ketika semua usaha masih berdampingan dengan cinta"

*Sedikit Cerita yang di adopsi dari pengalaman seorang teman kehilangan ayahnya ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama

0 comments:

Post a Comment